Halaman

Powered By Blogger

Minggu, 08 Januari 2012

ANALISIS NASKAH MELAYU “LANCANG KUNING” BERDASARKAN TEORI STRUKTURALISME



I.       Pendahuluan
            1.1. Latar Belakang
Dalam ilmu filologi, naskah merupakan objek pengkajian utama. Naskah ini berbentuk karya (tulisan) yang merupakan salah satu peninggalan kongkret masa silam suatu bangsa. Teks yang tertuang di dalam naskah diposisikan sebagai bahan analisis dengan tujuan untuk mengungkapkan produk masa lampau yang berupa karya (tulisan), mengungkapkan fungsi karya tulisan itu dalam masyarakat penghasil atau ahli waris karya itu dan dalam masayarakat masa kini, serta mengungkapkan nilai – nilai budaya yang terkandung dalam karya. Secara khusus tujuan studi filologi adalah mengungkapkan sejarah perkembangan teks, mengungkapkan sambutan penerima teks, dan menyajikan suntingan teks dalam bentuk yang dapat dibaca oleh masyarakat masa kini.
Banyaknya naskah peninggalan dari budaya masa lampau Nusantara namun sedikitnya filolog yang mampu mengkaji teks naskah–naskah itu saat ini mejadi permasalahan dalam mengungkapkan tujuan–tujuan dari studi filologi itu sendiri. oleh karena itu, perlu adanya pembelajaran untuk pengkajian teks dan naskah sehingga diharapkan adanya ketertarikan untuk terus mengkaji teks dan  naskah yang ada. Meskipun dalam pengkajian ini hanya sebatas analisis teks semata. Tetapi, paling tidak telah ada usaha untuk mengkaji teks secara sederhana.
Pengkajian filologi tak lepas dari metode–metode yang terus berkembang.  Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah dengan teori–teori sastra. Adapun dalam makalah ini, metode pengkajian naskah adalah dengan sastra yang menggunakan teori strukturalisme, yaitu salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur yang membangun sebuah karya sastra yang besangkutan.
Naskah yang dianalisis dalam makalah ini adalah naskah yang tumbuh dalam masyarakat Melayu. Artinya naskah yang dimaksud berupa karya sastra yang tertulis dengan huruf Arab-Melayu. Dengan huruf “Arab-Melayu” dimaksudkan huruf Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu. Naskah ini berjudul “Lancang Kuning”.
Naskah ini ditemukan penulis terdapat dalam sebuah buku pelajaran Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kundur Barat, Karimun, Kepulauan Riau. Meskipun naskah ini terbilang muda, tetapi teks yang terdapat di dalamnya merupakan teks yang sudah tua. Cerita ini dahulu sering disampaikan secara lisan, kemudian mulai dituliskan sehingga dapat diajarkan pada siswa untuk tetap mempertahankan kebudayaan masa lampau. Selain siswa dapat mempelajari tulisannya, siswa juga dapat mengenal sejarah yang terkandung di dalamnya.
         
            1.2. Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang di atas dapat kita ketahui bahwa sedikit sekali orang-orang yang ingin menganalisis naskah untuk mengungkap khasanah kebudayaan masa lampau. Oleh karena itu penulis ingin menganalisis naskah Melayu yang berjudul “Lancang Kuning” ini secara sederhana. Adapun metode analisis yang digunakan adalah metode pendekatan strukturalisme.

            1.3. Landasan Teoritis
TEORI STRUKTURALISME
Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Praha. Ia mendapat pengaruh langsung dari Saussure yang mengubah studi lingusitik dari pendekatan diakronik menjadi sinkronik. Studi linguistik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangannya, melainkan hubungan antarunsurnya. Masalah unsur dan hubungan antarunsur merupakan hal yang penting dalan pendekatan ini. Unsur bahasa misalnya, unsur fonologi, unsur morfologi dan sintaksis, maka dalam studi linguistik pun dikenal adanya studi fonetik, fonemik, morfologi dan sintaksis. (Nurgiyantoro, 2010:36)
Sebuah karya sastra, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh  barbagai unsur pembangunnya. Di satu pihak, Abrams (dikutip Nurgiayntoro, 2010:36) karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan , dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya serta bersama membentuk kebulatan yang indah. Sementara di pihak lain struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antarunsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh.
Analisis struktural karya sastra dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan medeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsiknya. Mula-mula diidentifkasi dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh, latar, dll. Setelah itu, kaitkan unsur satu dengan unsur yang lain sehingga membentuk suatu kepaduan dalam karya sastra. Dengan demikian, pada prinsipnya kajian strukturalisme bertujuan untuk memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antarunsur intrinsik yang menunjang sebuah karya sastra sehingga membentuk kepaduan yang menyeluruh.

II.    Pembahasan
            2.1. Transliterasi Naskah Melayu “Lancang Kuning” ke dalam Aksara Bahasa Indonesia
Lancang Kuning
          Lancang adalah sebuah perahu dengan ukurang yang berbeda-beda, karena ada yang kecil dan ada pula yang besar, yang jelas lancang adalah alat perhubungan air pada masa lalu. Dalam masyarakat Riau lebih dikenal dengan Lancang Kuning yang merupakan suatu lambang kebesaran daerah Riau. Karena itu Lancang Kuning ditetapkan menjadi lambang dan nyanyi (nyanyian—pent.) daerah Riau.
          Adapun cerita Lancang Kuning adalah berasal dari sebuah kerajaan yang terdapat di Bukit Batu, wilayah Kabupaten Bengkalis. Kerajaan ini diperintah oleh raja yang bernama Datuk Laksmana Perkasa Alam serta dibantu oleh dua orang panglima yaitu Panglima Umar dan Panglima Hasan. Panglima Umar adalah seorang panglima yang dipercaya oleh Datuk Laksmana Perkasa untuk menyelesaikan sesuatu jika terjadi persoalan dalam kerajaan. Umpamanya jika terjadi perampokan di perairan, setiap tugas dapat diselesaikannya dengan baik.
          Pada suatu hari Panglima Umar menghadap Datuk Laksmana untuk menyampaikan hasrat hati untuk mempersunting Zubaidah, seorang gadis negeri itu. Permohonan Umar disambut dengan baik oleh Datuk Laksmana. Dengan persetujuan Datuk Laksmana dilangsungkan pernikahan dan tanda kegembiraan diadakan pesta dan keramaian besar-besaran.
          Rupanya kepercayaan yang diberikan dan perkawinan Umar dengan Zubaidah menimbulkan rasa tidak senang bagi Panglima Hasan, timbul dendam. Hal ini timbul dikernakan (karena—pent.) rupanya Panglima Hasan juga simpati dan mencintai Zubaidah itu. Rupanya apa yang diinginkan itu telah didahului Panglima Umar.
          Untuk melepaskan rasa sakit hati Panglima Hasan mencarai akal bagaimana agar Zubaidah dapat dimilikinya, maka dengan akal busuknya Panglima Hasan menyuruh Domo menyampaikan kepada datuk bahwa dia bermimpi agar Datuk Laksmana membuat Lancang Kuning untuk mengamankan semua perairan dari lanun. Apa yang disampaikan Pawang Domo diterima oleh Datuk Laksmana, sehingga Lancang Kuning dikerjakan siang malam. Setelah Lancang Kuning hampir selesai tersebar berita bahwa Batin Sanggoro telah melarang para pelaut untuk mencari ikan di Tanjung Jati.
          Dengan adanya berita ini Datuk Laksmana memerintahkan agar Panglima Umar berangkat dan menemui Batin Sanggoro, sungguh berat hati Panglima Umar untuk berangkat karena istrinya sedang hamil tua dan tak lama lagi ia akan melahirkan, tapi karena tugas yang sangat penting, semua perasaan itu ditahan, demi kerajaan yang tercinta.
          Setelah berlayar beberapa hari sampailah Panglima Umar kepada Batin Sanggoro dan diceritakan semua berita yang tersebar di Bukit Batu. Mendengar cerita itu Batin Sanggoro terkejut, karena selama ini dia tidak pernah melarang nelayan Bukit Batu menangkap ikan di Tanjung Jati. Mendengar cerita Batin Sanggoro Panglima Umar termenung dan berpikir, apakah gerangan yang terjadi di balik peristiwa ini? Melihat keadaan ini lalu Batin Sanggoro menganjurkan agar cerita ini diselidiki dari mana asal mulanya, dan diselidiki sewaktu perjalan pulang.
          Rupanya apa yang disampaikan Batin Sanggoro dituruti Panglima Umar, sewaktu perjalanan pulang Panglima Umar berkeliling karena mencari siapa yang membuat berita itu, sehingga tidak dirasakan bahwa (pent.—tulisan tidak jelas) perjalanan sudah satu bulan.
          Malam ini tepat lima belas hari bulan purnama. Malam itu Lancang Kuning akan diluncurkan ke laut. Di balai-balai telah banyak awak (pent.—tulisan tidak jelas) kerajaan dan penduduk negeri untuk menyaksikan peluncuran Lancang Kuning tersebut. Bermacam-macam hiburan daerah dipertunjukkan. Semua (pent.—tulisan tidak jelas) penduduk negeri berkembira kecuali Zubaidah, kerna suaminya Panglima Umar sudah satu bulan pergi dan sampai saat ini belum juga kembali (pent.—tulisan tidak jelas) dan kerna itu tidak pergi menghadiri acara peluncuran Lancang Kuning ke laut pada malam itu.
          Setelah semua keperluan peluncuran Lancang Kuning disiapkan Pawang (pent.—tulisan tidak jelas) Domo memberikan petunjuk kepada Datuk Laksmana. Acara peluncuran diawali dengan tepung tawar pada dinding Lancang Kuning kemudian dilanjutkan Panglima Hasan dan pemuka masyarakat lainnya. Selesai tepung tawar dilanjtkan dengan pengasapan dan barulah semua yang hadir diperintahkan supaya (pent.—tulisan tidak jelas) berdiri di samping Lancang Kuning dan semua bunyi-bunyian dibunyikan. Dan semua yang telah memegang Lancang Kuning mendorong, tetapi alangkah anehnya, Lancang Kuning tersebut tidak bergerak sedikitpun. Hal ini dikerjakan berulang-ulang bahkan tenaga sudah ditambah, namun Lancang Kuning tidak juga bergerak. Hadirin yan hadir bmerasa heran dan bertanya-tanya, muka Pawang Domo merah padam.
          Pawang Domo segera bersembah kepada Datuk Laksmana dan berkata: ampun tuanku yang mulia! Rupanya Lancang Kuning tidak bisa diluncurkan jika.... Jika apa Wak Domo? Kata Datuk Laksmana, katakanlah! Jika Lancang Kuning ingin juga diluncurkan harus ada korban. Korban berapa ekor kerbau yang diperlukan Wak Domo? Tuanku yang mulia, bukan kerbau. Wak Domo menghampiri Datuk Laksmana dan membisikkan bahwa korban yang diperlukan adalah perempuan hamil sulung—Datuk Laksmana tertunduk dan termenung serta berkata kepada Pawang Domo—bahwa tidak mungkin itu dilakukan,  maka Datuk Laksmana memerintahkan agar peluncuran Lancang Kuning diundurkan saja.
          Setelah sebagian orang pulang, Panglima Hasan pergi ke rumah Zubaidah dan didapatinya Zubaidah sedang duduk termenung. Zubaidah terkejut dengan  (pent.—tulisan tidak jelas) kedatangan Panglima Hasan sambil berkata. Mengapa lagi kau ke sini Panglima Hasan? Berkata Panglima Hasan: Zubaidah apa lagi yang kau tunggu Zubaidah? Suamimu tidak akan kembali lagi, karena itu biar aku yang mejadi ayah anakmu itu! Apa katamu panglima pengkhianat?  Biar saya mati  (pent.—tulisan tidak jelas) dari pada bersuamikan kamu! Apa? Jawab Panglima Hasan. Jika kamu masih menolak permintaanku, kamu akan saya jadikan gilingan Lancang Kuning yang akan diluncurkan ke laut.
          Kerna Zubaidah tetap menolak permintaan Pangliama Hasan, maka Zubaidah ditarik dan matanya ditutup dengan dibantu oleh pengawalnya, setelah sampai di (pent.—kata “di” dengan lambang huruf   tertutup garis hitam bekas fotocopy) Lancang Kuning yang akan diluncurkan, Panglima Hasan mendorongkan tubuh Zubaidah ke bawah Lancang Kuning dan ketika itu juga Panglima Hasan memerintahkan supaya  (pent.—tulisan tidak jelas) Lancang Kuning didorong ke laut. Hanya didorong oleh beberapa orang saja (pent.—tulisan tidak jelas) Lancang Kuning itu meluncur dengan mulus.
          Setelah Lancang Kuning sampai di laut tampaklah darah dan daging Zubaidah berserakan di tanah dan ketika itu turunlah hujan serta (pent.—tulisan tidak jelas) petir dan angin kencang serta bertepatan waktu itu Panglima Umar merapat ke pelabuhan Bukit Batu.
          Setelah perahu ditambatkan di pelabuhan Panglima Umar langsung ke rumah untuk melihat istrinya dan anaknya yang telah ditinggalkan selama sebulan, tapi setelah sampai di rumah, rumahnya kosong, dipanggilnya Zubaidah tetapi tidak ada jawaban. Hati pnglima sudah mulai gelisah, maka ia berangkat ke pelabuhan, di tengah jalan ia berpapasan dengan Panglima Hasan, langsung Panglima Umar bertanya kepadanya, dimana gerangan istriku. Panglima Hasan menceritakan, istrinya Zubaidah telah dijadikan gilingan Lancang Kuning oleh Datuk Laksmana.
   Mendengar cerita Panglima Hasan tersebut Panglima Umar langsung pergi ke tempat peluncuran Lancang Kuning, didapatinya darah berserakan alangkah sedih hati Panglima Umar melihat tubuh istrinya itu, disapunya darah yang ada yang di tanah itu serta diusapkan ke muka serta berkata bahwa dia akan membalas atas kematian istrinya itu kepada datuk laksmana, tetapi baru saja ia berjalan dilihatnya Datuk Laksmana berjalan kearahnya.
   Setelah mereka bertemu Panglima Umar langsung menyerang Datuk Laksmana dengan pedang yang panjang ke perut Datuk Laksmana, tanpa ada pembicaraan sedikit pun, akhirnya Datuk Laksmana mati di tangan Panglima Umar, ketika itu juga datanglah Pawang Domo serta menceritakan segala kejadian yang sebenarnya, bahwa yang menjadikan Zubaidah untuk gilingan Lancang Kuning adalah Panglima Hasan, tanpa mengulur waktu Panglima Umar pergi mencari Panglima Hasan.
Dari kejauhan Panglima Umar melihat Panglima Hasan sudah bersiap-siap untuk melarikan diri menuju Lancang Kuning tapi belum sempat melepaskan talinya Panglima Umar telah sampai, dengan pedang terhunus sambil berkata: nah. . . malam ini. . . engkau atau aku akan mati. Dengan disaksikan penduduk mereka berkelahi di atas Lancang Kuning. Dan akhirnya Panglima Hasan dapat ditikam Panglima Umar dan matinya jatuh ke laut.
Waktu itu lah Panglima Umar melihat ke pantai dan berkata kepada orang yang ada di pantai bahwa ia telah membunuh Datuk Laksmana karena perbuatan Panglima Hasan dan Panglima Hasan pun sudah mati di tangannya, kerna itu ia akan pergi dengan Lancang Kuning untuk selama-lamanya, dan ketika sampai di Tanjung Jati datanglah ombak besar dan angin topan sehingga Lancang Kuning tersebut karam dan ia bersama Lancang Kuning terkubur dalam laut Tanjung Jati serta kejayaan kerajaan negeri bukit batu berangsur-angsur mundur dan akhirnya tinggal setumpuk rumah saja lagi.
             
            2.2. Analisis Naskah Melayu “Lancang Kuning” berdasarkan Teori Strukturalisme
2.2.1. Analisis Plot pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Plot atau alur cerita merupakan salah satu unsur yang penting dalam sebuah karya sastra fiksi, bahkan tak sedikit orang yang menganggap plot unsur terpenting sebagai pembangun karya fiksi. Tinjauan struktural pun sering ditekankan pada pembahasan plot. Stanton (dikutip Nurgiyantoro, 2010:113) mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian , namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa lain. Plot ini dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku dan sikap-sikap tokoh utama cerita.
Peristiwa demi peristiwa yang ditampilkan yang hanya mendasarkan pada urutan waktu belum dapat dikatakan plot. Agar menjadi sebuah plot, peristiwa-peristiwa tersebut harus disiasati secara kreatif, sehingga menghasilkan sesuatu yang menarik dan indah. Abrams (dikutip Nurgiyantoro, 2010:113) yang menyetujui adanya perbedaan cerita dengan plot mengemukakan bahwa plot sebuah karya fiksi merupakan struktur peristiwa-peristiwa, yaitu sebgaimana terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa tersebit untuk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu.
Dalam teks “Lancang Kuning” ini plot yang sangat menonjol adalah ketika Panglima Hasan menjadikan Zubaidah gilingan Lancang Kuning dan dia mengatakan kepada Panglima Umar bahwa Datuk Laksmana yang melakukannya menyebabkan Datuk Laksmana terbunuh di tangan Panglima Umar tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu. Kemudian berita itu diluruskan oleh Pawang Domo sehingga diketahuilah bahwa pelaku sebenarnya adalah Panglima Hasan. Hal ini kembali menyebabkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh Panglima Umar terhadap Panglima Hasan di atas Lancang Kuning.
Untuk lebih jelas mengenai plot yang terdapat pada teks yang berjudul “Lancang Kuning” ini, dapat kita runut peristiwa, konflik dan klimaks sebagai berikut.

1. Peristiwa
Sejauh ini kita sering mendengar kata peristiwa maupuun kejadian disebut-sebut oleh banyak orang dalam pembicaraan tentang karya fiksi, namun belum diketahui secara jelas apa sebenarnya peristiwa itu. Dalam berbagai literatur berbahasa Inggris sering dikemukakan penggunaan istilah action (aksi, tindakan) atau event (peristiwa, kejadian) secara bersamaan atau bergantian, walau sebenarnya kedua istilah itu menyaran pada dua hal yang berbeda. Action merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan oleh tokoh manusia, misalnya memukul dan memarahi. Di pihak lain, event lebih luas cakupannya menyaran pada sesuatu yang dilakukan dan atau dialami oleh manusia yang terjadi diluar aktivitas manusia, misalnya peristiwa alam seperti banjir dan tanah longsor. Dalam penulisan ini, kedua hal itu disederhanakan menjadi: peristiwa atau kejadian. Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg dikutip Nurgiyantoro, 2010:117)
Peristiwa yang terjadi dalam teks “Lancang Kuning” ada enam, dimulai dari niat Panglima Umar yang hendak mempersunting Zubaidah, seorang putri raja di daerah Bukit Batu, wilayah Kabupaten Bengkalis, pada masa lampau. Suntingan Panglima Umar terhadap Zubaidah diterima dan dilangsungkan pesta pernikahan secara besar-besaran. Peristiwa kemudian beralih kepada perasaan Panglima Hasan yang terluka dan sakit hati karena niatnya telah didahulukan oleh Panglima Umar. Dari rasa sakit hatinya itu, muncul niat jahat Panglima Hasan dengan menyiarkan kabar bahwa Batin Sanggoro telah melarang para pelaut untuk mencari ikan di Tanjung Jati. Kemudian peristiwa beralih pada Batin Sanggoro yang tidak mengakui kebenaran berita itu setelah ditanyakan oleh Panglima Umar. Sanggoro meminta Panglima Umar mencari kebenaran berita itu, dari mana asal muasalnya. Perjalanan Panglima Umar mencari kebenaran berita itu berlangsung selama sebulan. Selama itu pula ia meninggalkan Zubaidah yang sedang hamil tua.
Di samping peristiwa itu juga terdapat peristiwa lain yang dialami oleh Datuk Laksmana dan masyarakat Bukit Batu. Ketika Datuk Laksmana mendapat berita dari Pawang Domo untuk membuat perahu yang digunakan untuk mengusir para lanun dari perairan Bukit Batu, maka perahu yang diberi nama Lancang Kuning itu dikerjakan siang dan malam. Tetapi ketika Lancang Kuning sudah selesai dikerjakan dan hendak diluncurkan ke laut melalui berbagai ritual, Lancang Kuning tetap tidak mau meluncur ke laut karena membutuhkan korban dari seorang wanita yang sedang hamil sulung. Peristiwa beranjak pada perbuatan Panglima Hasan yang keinginannya untuk menjadi suami Zubaidah ditolak oleh Zubaidah kemudian menjadikan Zubaidah sebagai korban untuk meluncurkan lancang Kuning ke laut. Sesaat setelah kejadian itu, Panglima Umar kemmbali ke Bukit Batu dan mendapat kabar dari Panglima Hasan bahwa istrinya telah dijadikan gilingan Lancang Kuning oleh Datuk Laksmana. Kemudian peristiwa beranjak pada peristiwa pembunuhan Datuk Laksmana dan Panglima Hasan oleh Panglima Umar. Sementara peristiwa akhir dari kisah kerajaan Bukit Batu ini ditandai dengan kepergian Pangkima Umar berlayar dengan Lancang Kuning dan tenggelam di perairan Tanjung Jati serta mengakibatkan mundurnya kerajaan Bukit Batu.

2. Konflik
Konflik juga termasuk salah satu unsur yang penting dalam sebuah plot. Peristiwa yang terjadi berupa peristiwa yang fungsional, utama, atau kernel yang sangat esensial dalam pengembangan sebuah plot. Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita, yang jika tokoh-tokoh itu dapat memilih, ia memilih peristiwa itu tidak akan menimpa dirinya (Meredith & Fitzgerald dikutip Nurgiyantoro, 2010:122). Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Wellek & Warren dikutip Nurgiyantoro, 2010:122). Dengan demikian, konflik menyaran pada konotasi yang negatif, sesuatu yang tak menyenangkan. Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan sebuah peristiwa. Adanya peristiwa tentu dapat menimbulkan konflik. Konflik demi konflik yang disusul peristiwa demi peristiwa pada akhirnya dapat menyebabkan konflik semakin meningkat dan mencapai klimaks.
Konflik-konflik yang terjadi dalam teks Melayu “Lancang Kuning” mulai muncul ketika Zubaidah dijadikan gilingan perahu Lancang Kuning oleh Panglima Hasan. Hal ini terjadi akibat penolakan Zubaidah terhadap Panglima Hasan yang ingin menjadi suami Zubaidah dengan alasan bahwa Panglima Umar takkan pernah kembali lagi. Zubaidah menolak keras permintaan Panglima Hasan dan menyebabkan ia diseret ke pantai untuk dijadikan gilingan Lancang Kuning. Zubaidah yang dijadikan gilingan Lancang Kuning meninggal dengan mengenaskan. Daging dan darahnya berserakan di pasir pantai. Seketika turun hujan dan serentak dengan kepulangan Panglima Umar yang sudah merapat di pelabuhan Bukit Batu. Panglima Umar yang tidak menemukan istrinya di rumah menemui Panglima Hasan secara tak sengaja. Pada saat itu Panglima Hasan mengatakan bahwa istrinya telah dijadikan gilingan Lancang Kuning oleh Datuk Laksmana. Perkataan Panglima Hasan mengundang amarah Panglima Umar yang menyebabkan kematian Datuk Laksmana.
Dapat kita lihat dari penjelasan di atas bahwa konflik muncul secara berurut. Konflik pembunuhan Datuk Laksmana oleh Panglima Umar terjadi karena peristiwa yang dipicu oleh Panglima Hasan yang menjadikan Zubaidah sebagai gilingan perahu Lancang Kuning dan memfitnah Datuk Laksmana. Dari konflik ini dapat kita ketahui karakter tokoh Panglima Hasan yang tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang telah ia lakukan. Panglima Hasan rela mengorbankan nyawa Datuk Laksmana untuk menutupi kesalahan dirinya dan pura-pura tidak tahu atas kejadian itu. Selain itu dapat juga kita lihat karakter tokoh Zubaidah yang rala mati demi mempertahankan kehormatan dirinya dan rumah tangganya yang sudah ia bangun bersama Panglima Umar. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara unsur-unsur intrinsik yang membangun sebuah karya fiksi. Unsur-unsur itu tidak dapat berdiri sendiri karena melalui salah satu unsur kita dapat mengetahui unsur pendukung lainnya.

3. Klimaks
Konflik dan klimaks merupakan unsur yang paling penting dalam struktur pembangun plot. Konflik demi konflik yang terjadi jika telah mencapai titik puncak dapat menyebabkan terjadinya klimaks (puncak konflik). Dengan demikian terdapat keterkaitan yang erta antara konflik dan klimaks. Klimaks hanya akan terjadi jika terdapat konflik yang mendukungnya. Namun tidak semua konflik dapat mencapai klimaks. Klimak, menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2010:127) adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Klimaks merupakan kejadian puncak yang menarik dan menegangkan dan biasanya tidak ada lagi kejadian lain yang sama dengan klimaks. Kalau pun ada, itu hanyalah kejadian/konflik ringan yang masih bisa diatasi sebagai peregangan untuk menuju penyelesaian atau akhir dari sebuah cerita.
Klimaks dalam teks Melayu “Lancang Kuning” terjadi ketika konflik-konflik yang diawali oleh Panglima Hasan ini sudah semakin meruncing. Jika meninjau kembali pembahasan penulis mengenai konflik-konflik yang terjadi dalam teks “Lancang Kuning”, dapat kita lihat bahwa terbunuhnya Datuk Laksmana merupakan konflik penegangan tetapi belum mencapai klimaks. Klimaks terjadi ketika Pawang Domo yang melihat Datuk Laksmana sudah  terbunuh mengatakan kepada Panglima Umar mengenai hal yang sebenarnya, yaitu Panglima Hasan lah yang menjadikan Zubaidah sebagai gilingan perahu Lancang Kuning. Semakin beranglah Panglima Umar. Ia mencari Penglima Hasan dan menemukannya ketika Panglima Hasan hendak melarikan diri bersama Lancang Kuning. Tetapi usahanya sempat ditunda oleh Panglima Umar. Dengan sigap Panglima Umar naik ke Lancang Kuning dan bertarung dengan Panglima Hasan. Akhirnya pada pertarungan itu Panglima Hasan terbunuh dan mayatnya jatuh ke laut.
Melalui konflik dan klimaks dapat kita lihat bahwa Panglima Umar merupakan seseorang yang tidak sabar dan terlalu cepat menyimpulkan suatu permasalahan. Ia membunuh Datuk Laksmana tanpa bertanya terlebih dahulu mengenai kebenaran meninggalnya Zubaidah. Ia lebih memilih tak lagi bicara dan langsung membunuh Datuk Laksmana sehingga Datuk Laksmana yang tidak bersalah ikut menjadi korban amarahnya.
Dari penjelasan peristiwa, konflik dan klimaks dapat kita simpulkan bahwa plot yang terdapat dalam teks Melayu “Lancang Kuning” menggunakan plot lurus, yaitu plot yang peristiwa-peristiwa dan konflik-konfliknya terjadi secara kronologis dan dapat dengan mudah dirunut. Melalui plot juga dapat kita tentukan karakter tokoh Panglima Umar, Panglima Hasan dan Zubaidah.

2.2.2. Analisis Tokoh pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Tokoh merupakan pelaku cerita. Istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. Tokoh cerita, menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010:165) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang dideskripsikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitas pribadinya erat berkaitan dengan penerimaan pembaca.
Tokoh yang terdapat dalam teks “Lancang Kuning” dibedakan berdasarkan penting tidaknya tokoh ada Zubaidah dan Panglima Hasan sebagai tokoh utama serta Panglima Umar, Datuk Laksmana dan pawang Domo sebagai tokoh tambahan. Dari penting tidaknya tokoh, tentu saja dapat dilihat melalui peran masing-masing tokoh dalam mendukung sebuah cerita. Seperti Panglima Hasan, perannya dominan karena sejak awal Panglima Hasan selalu memulai untuk menimbulkan sebuah peristiwa dan memunculkan konflik. Sementara Zubaidah adalah tokoh yang dijadikan korban dan merupakan salah satu penyebab munculnya konflik yang terjadi antara Panglima Hasan dan Panglima Umar. Dengan demikian, Panglima Hasan dan Zubaidah dapat disebut sebagai tokoh utama. Tanpa Panglima Hasan memunculkan peristiwa dan konflik maka cerita ini tidak akan menemukan klimaks. Begitupun Zubaidah, tanpa peran Zubaidah yang dijadikan korban untuk gilingan perahu Lancang Kuning Panglima Umar tidak akan marah dan membunuh Datuk Laksmana dan Panglima Hasan.
Sementara itu, tokoh tambahan dalam cerita ini adalah Panglima Umar, Datuk Laksmana dan Pawang Domo. Peran mereka tidak terlalu besar dalam cerita ini tapi cukup fungsional karena tanpa mereka tokoh Panglima Hasan hanya akan melakukan hal yang sia-sia. Jika Panglima Umar tidak ada, perbuatan Panglima Hasan tidak ada yang menentang dan Panglima Hasan tidak mendapatkan aksi balasan dari tokoh yang bertentangan dengannya. Hal yang sama juga berlaku pada Datuk Laksmana dan Pawang Domo. Masing-masing mereka hanya dominan muncul pada proses peluncuran Lancang Kuning ke laut. Kemudian muncul kembali pada bagian akhir cerita ketika Datuk Laksmana muncul dan langsung dibunuh oleh Panglima Umar, sedangkan Pawang Domo muncul setelah kejadian terbunuhnya Datuk Laksmana.
Berdasarkan fungsi penampilan tokoh, tokoh dalam teks “Lancang Kuning” dapat dibagi menjadi tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh antagonis dalam teks ini adalah Panglima Hasan. Sangat jelas terlihat melalui percakapan tokoh dengan Zubaidah. Selain itu karakter tokoh dapat dilihat melalui tingkah laku tokoh yang memfitnah Datuk Laksmana sehingga menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh Panglima Umar. Sikap tidak bertanggung jawab menjadi salah satu indikator bahwa tokoh Panglima Hasan bukanlah seorang yang baik. Sementara itu, tokoh Panglima Umar, Datuk Laksmana, Pawang Domo, dan Zubaidah merupakan tokoh protagonis dalam cerita ini. Tidak tampak perbuatan masing-masing tokoh untuk berbuat jahat. Tokoh Panglima Umar dinilai baik oleh penulis karena Panglima Umar bersedia melakukan perintah Datuk Laksmana untuk mencari kebenaran berita tentang larangan melaut di Tanjung Jati kepada Batin Sanggoro. Datuk Laksmana dinilai baik karena ia tidak ingin mengorbankan siapapun demi kelancaran peluncuran Lancang Kuning ke laut. Pawang Domo menunjukkan sikap baiknya dengan memberitahu hal yang sebenarnya terjadi kepada Zubaidah.  Sedangkan Zubaidah dinilai sebagai tokoh protagonis karena ia berani mempertahankan kehormatan dirinya dan rumah tangganya dengan Panglima Umar yang juga diajarkan oleh agama islam.
Tokoh-tokoh ini dapat diketahui penggolongannya melalui dialog tokoh ataupun tingkah laku tokoh terhadap tokoh lain. karakter tokoh juga dapat dilihat melalui peristiwa-peristiwa yang menimbulkan konflik-konflik yang terjadi dalam cerita. Ini membuktikan bahwa unsur tokoh dan plot memiliki keterkaitan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, seitap unsur instrinsik yang mambangun sebuah cerita tidak dapat berdiri sendiri.

2.2.3. Analisis Latar pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Berbicara tentang sebuah karya sastra khususnya fiksi, akan berkaitan dengan latar yang mendukung tempat terjadinya peristiwa atau konflik dalam cerita. Sebuah karya fiksi tidak akan lengkap unsurnya tanpa ada latar yang menggambarkan tempat terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Layaknya cerita yang terjadi dalam keidupan nyata, karya fiksi juga memerlukan latar sebagai ruang bagi tokoh untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dikutip Nurgiyantoro, 2010:216). Sementara itu, Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2010:216) mengelompokkan latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta (cerita) sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi, dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca cerita fiksi.
Latar fisik pada teks Melayu “Lancang Kuning” adalah Bukit Batu, daerah Kabupaten Bengkalis dan Tanjung Jati. Naskah ini tidak jauh berbeda dengan cerita lisan masyarakat Riau yang menyebutkan bahwa Lancang Kuning memang terjadi di daerah Bukit Batu dan Lancang Kuning karam di perairan Tanjung Jati. Hal ini memperkuat teks yang terdapat dalam naskah Melayu yang berjudul “Lancang Kuning” bahwa terdapat kerajaan di Bukit Batu pada masa lalu. Tetapi pada dasarnya cerita ini hanyalah fiktif pengarang yang tidak diketahui penulisnya. Penekanan unsur latar di Bukit Batu dapat dilihat pada peristiwa peluncuran Lancang Kuning ke laut serta sebagian besar kehidupan yang diceritakan dalam teks. Kemudian latar yang menunjukkan daerah Tanjung Jati terdapat pada peristiwa ketika Panglima Umar mendatangi Batin Sanggoro untuk menanyakan perihal  kebenaran larangan untuk berlayar dan melaut di perairan Tanjung Jati.
Latar di Bukit Batu lebih dominan dijelaskan ketika Lancang Kuning hendak diluncurkan, yaitu di pantai Bukit Batu. Latar dipilih sebuah pantai karena peristiwa yang sedang terjadi adalah masyarakkat Bukit Batu hendak meluncurkan Lancang Kuning ke laut. Lancang Kuning merupakan nama sebuah perahu, sehingga latar yang dipilih adalah latar tempat di pantai.
Latar waktu tidak digambarkan dengan jelas dalam teks ini sehingga tidak dapat dijelaskan secara detil mengenai penggambaran latar waktu yang terdapat dalam cerita ini. Hanya saja latar waktu disebutkan ketika peluncuran Lancang Kuning ke laut dilakukan pada malam hari ketika tepat pada malam ke limabelas bulan purnama. Sementara untuk tahun terjadinya peristiwa itu tidak disebutkan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan untuk menentukan latar terjadinya sebuah peristiwa, kita tetap harus memperhatikan peristiwa apa yang sedang terjadi dan berhubungan dengan latar itu, baik latar waktu maupun latar tempat.

2.2.4. Ananlisi Sudut Pandang pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Membaca dua buah karya fiksi yang berbeda akan memungkinkan kita menghadapi dua person ayng berbeda pula. Persona itu dari satu sisi dapat dipandang sebagai tokoh cerita. Di sisi tertentu, dapat juga dipandang sebagai si pencerita. Sudut pandang menyaran pada sebuah cerita dilukiskan. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010:248) mengatakan bahwa sudut pandang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam teks Melayu “Lancang Kuning” ini berupa sudut pandang persona ketiga serba tahu, gaya “dia”. Persona ketiga ini adalah orang berada di luar cerita tapi serba mengetahui kejadian yang terjadi di setiap bagian cerita. Hal ini dapat dikatahui dengan mudah karena pengarang menggambarkan tokoh dengan menyebutkan nama tokoh. Dapat kita lihat pada kutipan cerita di bawah ini.
Malam ini tepat lima belas hari bulan purnama. Malam itu Lancang Kuning akan diluncurkan ke laut. Di balai-balai telah banyak awak (pent.—tulisan tidak jelas) kerajaan dan penduduk negeri untuk menyaksikan peluncuran Lancang Kuning tersebut. Bermacam-macam hiburan daerah dipertunjukkan. Semua (pent.—tulisan tidak jelas) penduduk negeri berkembira kecuali Zubaidah, karena suaminya Panglima Umar sudah satu bulan pergi dan sampai saat ini belum juga kembali (pent.—tulisan tidak jelas) dan karena itu tidak pergi menghadiri acara peluncuran Lancang Kuning ke laut pada malam itu.
Dari kutipan di atas dapat dilihat secara jelas pengarang mengetahui kejadian yang bersifat fisik atau pun keadaan batin yang sedang dirasakan/dialami oleh tokoh. Seperti yang terdapat dalam cerita, pengarang mampu menggambarkan kegembiraan masyarakat Bukit Batu karena diadakannya acara peluncuran Lancang Kuning. Semua orang bergembira kecuali Zubaidah karena ia sedang menanti kepulangan suaminya yang sudah sebulan meninggalkannya. Rasa sedih itu juga yang menyebabkan ia tidak ingin menghadiri acara yang sedang digelar tersebut.
Dapat disimpulkan, untuk menentukan sudut pandang kita masih membutuhkan unsur lain, misalnya plot. Plot perlu diperhatikan dalam menentukan sudut pandang yaitu menunjuk pada peristiwa apa yang sedang terjadi. Atau dapat juga kita perhatikan melalui penceritaan nyata yang dilakukan oleh pengarang untuk melukiskan cerita yang ditulisnya, misalnya melalui tokoh. Sudut pandang juga dapat dicermati melalui peran-peran tokoh yang terdapat dalam cerita sehingga cerita tersebut menampakkan sebuah kepaduan.

2.2.5. Ananlisis Tema pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Berbicara karya sastra fiksi tidak lengkap jika tidak berbicara tentang tema. Stanton dan Kenny (dikutip Nurgiyantoro, 2010:66: mengatakan bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Tema ini menjadi landas tumpu bagi pengarang untuk membuat sebuah cerita. Tanpa tema, cerita tidak akan dapat dilukiskan dengan baik karena tidak terdapat kejelasan konsep bagi pengarang untuk melukiskan cerita. Dari sebuah tema, pengarang dapat menentukan plot, tokoh cerita yang mendukung, latar yang mendukung terjadinya sebuah peristiwa atau konflik, maupun amanat yang ingin disampaikan.
Tema yang terdapat dalam teks “Lancang Kuning” berkisar pada sebuah kisah cinta dua panglima kerajaan Bukit Batu terhadap Zubaidah, seorang putri raja Kerajaan Bukit Batu, yang berujung dengan petaka dan kemunduran Kerajaan Bukit Batu. Cerita digambarkan berawal dari suntingan Panglima Umar kepada Zubaidah yang menyebabkan Panglima Hasan merasa sakit hati karena telah didahului oleh Panglima Umar. Rasa sakit hatinya itu ia lancarkan dengan melakukan rencana licik untuk memiliki Zubaidah. Tetapi hampir memasuki bagian klimaks, konflik terjadi ketika Panglima Hasan membunuh Zubaidah dengan menjadikannya korban untuk gilingan Lancang Kuning meluncur ke laut. Konflik ini memicu amarah Panglima Umar yang membabi buta sehingga menyebabkan Datuk Laksmana ikut terbunuh walaupun ia tak bersalah.
Penyimpulan sebuah tema dalam karya fiksi dapat dilihat dari setiap konflik yang terjadi. Dapat juga dari sebab-sebab yang mendukung terjadinya konflik tersebut. Semua dapa dirunut sehingga menghasilkan satu ide. Ide yang satu dan padu itulah yang kemudian disimpulkan sebagai tema dalam sebuah karya sastra. Selain peristiwa dan konflik yang mendukung tema, tokoh dan latar juga mendukung tema. Misalnya pada teks yang berjudul “Lancang Kuning” ini juga menggambarkan latar tempat di pantai. Wajar saja tempat dipilih pantai, karena lancang adalah sebutan perahu dalam masyarakat daerah Riau.

2.2.6. Analisis Amanat/Pesan Moral pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Amanat/pesan moral menurut Kenny (dikutip Nurgiyantoro, 2010:321) dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Amanat biasanya disampaikan melalui sikap tokoh-tokoh yang mendukung jalan cerita.
Pada teks Melayu “Lacang Kuning” ini pengarang ingin menyampaikan amanat dari masing-masing tokoh cerita. Misalnya Panglima Umar, melalui sikapnya yang terlalu cepat mengambil keputusan dan tidak sabar mengakibatkan Datuk Laksmana ikut terbunuh sementara Datuk Laksmana bukanlah orang yang harus disalahkan atas kematian Zubaidah, pengarang ingin menyampaikan bahwa pembaca jangan terlalu cepat mengambil sebuah keputusan. Apalagi pengambilan keputusan itu dilakukan dalam keadaan marah. Keputusan yang diambil tidak akan baik. Seharusnya sebelum melakukan sesuatu kita berpikir dengan cermat segala dampak yang mungkin timbul jika kita melakukannya. Atau jika sedang dalam permasalahan, ada baiknya permasalahan itu dibicarakan dengan baik-baik sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa berakibat buruk.
Pesan moral lainnya yang ingin disampaikan oleh pengarang terdapat dalam sikap tokoh Panglima Hasan. Melalui Panglima Hasan pengarang ingin menyampaikan bahwa sikap tidak bertanggung jawab dapat mengakibatkkan sesuatu yang lebih buruk dari pada perkiraan kita. Apalagi Panglima Hasan itu seorang panglima yang sudah semestinya memiliki rasa tanggung jawab terhadap perbuatan yang sudah dilakukan. Dalam menghadapi kehidupan, kita tidak dapat melarikan diri dari kenyataan. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap bertanggung jawab untuk menghadapi kehidupan ini. Entah itu yang sifatnya besar atau pun kecil terhadap kehidupan yang sedang kita jalani ini.
Amanat yang paling berhubungan dengan tema adalah janganlah kita menanamkan rasa cinta yang berlebihan kepada seseorang. Apabila cinta itu tak kesampaian akan mengakibatkan rasa sakit hati yang dalam. Apalagi Rasulullah telah mengajarkan kita untuk tidak terlalu sayang atau benci terhadap seseorang karena bisa jadi suatu saat perasaan kita menjadi terbalik dari perasaan sebelumnya.

III. Penutup
3.1. Kesimpulan
Melalui semua analisis yang dilakukan penulis terhadap teks Melayu yang berjudul “Lancang Kuning” dapat disimpulkan bahwa teks ini memiliki unsur-unsur intrinsik yang tidak dapat berdiri sendiri. Terdapat hubungan yang erat antara satu unsur dengan unsur yang lain. unsur-unsur itu memiliki keterkaitan sehingga membentuk sebuah cerita yang padu dan menarik. Dapat kita perhatikan dari unsur plot. Ternyata plot memiliki keterkaitan secara langsung dengan unsur tokoh, latar maupun sudut pandang pengarang. Melalui plot, kita dapat menentukan karakter tokoh yang terdapat dalam cerita. Melalui plot juga kita dapat menentukan unsur latar yang digunakan pengarang sebagai tempat kejadian sebuah peristiwa atau konflik. Melalui plot juga dapat kita tentukan sudut pandang apa yang digunakan pengarang untuk melukiskan cerita yang dibuat.
Selain plot, tema juga berhubungan secara langsung dengan latar dan amanat. Latar tempat yang mendukung terjadinya peristiwa tidak dapat dikatakan tidak bahwa latar juga mendukung tema yang terdapat dalam sebuah cerita. Jika latar mendukung terjadinya sebuah peristiwa yang memunculkan konflik dan konflik mendukung tema yang dibuat, secara otomatis latar juga berarti berhubungan dengan tema sebuah karya fiksi. Intinya, setiap unsur instrinsik yang terdapat dalam sebuah karya sastra khususnya fiksi, tidak dapat berdiri sendiri. Setiap unsur itu saling menunjang dan mendukung unsur lain sehingga menghasilkan cerita yang padu dan menarik untuk dibaca.


DAFTAR PUSTAKA
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Univerisity Press.
Sudjiman, Panuti. 1995. Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

1 komentar:

  1. ting..tung.. nyari2 analisis ketemu blod adek satu ne.. segera dilahap :)

    BalasHapus